6 Alasan Mengapa Donald Trump Dinilai 'Berbahaya' Part 2

6 Alasan Mengapa Donald Trump Dinilai ‘Berbahaya’ Part 2

 

2. Prinsip Balas Dendam
Prinsip balas dendam kelihatannya menjadi kebanggaan untuk Trump, yang sering memasarkan filosofinya ini dalam sejumlah kesempatan.

“Jika orang menyerang saya, saya bakal menyerang mereka dengan lebih parah, dan seringkali mereka yang meyerang terlebih dahulu,” kata Trump untuk Fox News bulan April, “Seperti itulah kita hendak memimpin negara ini.” Pada bulan yang sama, Trump mengungkapkan untuk seorang penyiar radio bahwa ayat Injil yang sangat memengaruhinya ialah “nyawa dijawab nyawa.”

Ia menyatakan dukungannya terhadap penganiayaan dan durjana perang dengan ungkapan “membalas api dengan api.” Saat dikritik sebab mengejek family pahlawan perang (Gold Star family) yang mengkritik proposalnya untuk tidak mengizinkan masuknya muslim ke AS, Trump bertanya, “Apakah saya jangan membalas?”

6 Alasan Mengapa Donald Trump Dinilai 'Berbahaya' Part 2
6 Alasan Mengapa Donald Trump Dinilai ‘Berbahaya’ Part 2

Ilustrasi penyokong Donald Trump (Reuters)

“Tidak terdapat kandidat presiden atau presiden yang menggunakan cerminan semacam tersebut secara berulang-ulang sepanjang kampanyenya,” demikian analisa Martin Medhurst, seorang profesor dari Baylor University yang mempunyai spesialisasi dalam bidang retorika politik. “Tidak pernah terdapat yang laksana itu.”- Agen Judi Online Terbesar Populer Dan Terpercaya 2019

3. Hobi Kekerasan
Pada debat capres kedua di St. Louis. jutaan penonton menantikan reaksi Trump bakal video Access Hollywood tahun 2005 yang mengandung sesumbarnya mengenai menggerayangi perangkat vital wanita secara paksa.

Saat dimintai komentar oleh pembimbing debat, Trump meminta maaf secara singkat dan mereduksi ucapannya sebagai “obrolan khas lelaki di kamar ganti.”

Capres AS asal Partai Republik, Donald Trump (Reuters)
Namun lantas jawabannya pulang menjadi penuh darah dengan mencerminkan tindakan keji ISIS. Ini ialah kebiasaan Trump yang sudah dilakukannya berulang kali sebelumnya. Dan dalam pandangan Trump mengenai dunia yang sarat konfrontasi, ini masuk akal: sekitar musuh di luar sana masih mengerjakan hal buruk, tak terdapat gunanya merundingkan “kesalahan kecil” seorang Trump.

Menonjolkan kekejaman musuh, dalam urusan ini ISIS, tidak jarang kali dilaksanakan Trump dalam wawancara dengan media dan kampanyenya guna menjustifikasi usulannya untuk mengerjakan penyiksaan terduga terorisme.

“Musuh anda memenggal kepala umat Kristiani dan membenamkan mereka di kurungan, namun kita terlampau bersopan-santun dalam menanggapinya,” tulisnya dalam surat ke USA Today pada bulan Februari 2016.

“Kita mesti berperang dengan buas dan keji sebab kita berurusan dengan orang-orang yang keji,” katanya pada bulan Juni saat menyokong dilakukannya waterboarding (metode penganiayaan dengan mengguyur air ke wajah tersangka sampai kehabisan napas), dan eksekusi pelaku terorisme.

Trump telah menanam kesediaannya guna berlaku lebih brutal dari lawannya sebagai inti dari pesan-pesan politiknya. Terbukti, ini adalahstrategi yang efektif dalam kampanye sekitar pemilihan capres partai Republik, ketika lawan-lawannya mayoritas merasa tidak nyaman ketika melenceng dari batasan konstitusi atau asumsi tradisional bakal kemanusiaan.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *