6 Alasan Mengapa Donald Trump Dinilai 'Berbahaya' Part 3

6 Alasan Mengapa Donald Trump Dinilai ‘Berbahaya’ Part 3

4. Blak-blakan
Bagi semua pendukung Trump, salah satu pesona Trump ialah kebiasaannya guna “mengatakan apa adanya.”

Bagi Ben Johnson, seorang pensiunan petugas pemadam kebakaran, masalahnya bukan pada diri Trump, tetapi orang lain. Politisi lainnya, menurut keterangan dari Ben, menawarkan “gambaran berbunga-bunga” mengenai dunia, sementara Trump ialah seorang yang realistis, terutama mengenai isu-isu laksana terorisme.

Saat Trump berkata dalam kampanyenya, ia berhenti sejenak untuk tidak mempedulikan pendukungnya meneriaki wartawan yang meliput. Seruan “penjarakan Hillary” pernah ia ungkapakan di debat kedua.

6 Alasan Mengapa Donald Trump Dinilai 'Berbahaya' Part 3
6 Alasan Mengapa Donald Trump Dinilai ‘Berbahaya’ Part 3

Ekspresi Donald Trump yang berdiri belakang rivalnya, Hillary Clinton sekitar debat Capres AS putaran kedua di Washington University, St Louis, AS, Minggu (9/10). Bahasa tubuh trump ini merangsang keheranan dan cibiran di media sosial. (AP Photo/Julio Cortez)- Agen Sbobet Casino Terbesar Populer Terbaik Terbesar 2019

Empat hari kemudian, di Greensboro North Carolina, peserta kampanyenya meneriakkan “penjarakan dia” dengan mengacu pada di antara wanita yang mendakwa Trump mengerjakan pelecehan seksual.

Trump merundingkan para wanita tersebut sebagai topik utama dalam pidatonya kali ini. Trump, yang terkenal tidak jarang menyerang musuh-musuhnya melewati media sosial, pun mendorong semua pendukungnya guna “memeriksa” laman Facebook di antara penuduhnya.

5. Kampanye Penuh Kekerasan
Jika capres lainnya selalu berjuang menjaga jarak dari penyokong yang berangasan atau mengancam, Trump sudah menyiratkan atau bahkan mengaku terang-terangan bahwa bersikap fanatik untuk membela Trump bukanlah urusan yang salah.

Pesan tersebut memuncak ketika pemilihan akan capres, ketika Trump, yang mempromosikan platform “hukum dan peraturan,” secara teratur membela pendukungnya yang menyerang pemrotes secara fisik.

Saat pemilihan di Iowa pada bulan Februari, Trump menuliskan pada pendukungnya bahwa ia akan menunaikan pengacara andai mereka “menonjok sampai KO” pemrotes yang diklaimnya berkeinginan melempar buah tomat. Pada bulan yang sama, Trump menuliskan bahwa ia “ingin menonjok wajah” seorang pemrotes yang sedang diseret ke luar oleh petugas keamanan.

Ilustrasi penyokong Donald Trump (Reuters)
Tindak kekerasan semacam ini adalahritual tak asing di acara kampanye Trump, sampai terjadi perselisihan antara pemrotes dan penyokong pada acara bulan Maret di Chicago.

Kampanyenya sekarang disertai rekaman permintaan supaya para penonton tidak mempedulikan petugas ketenteraman menangani masing-masing gangguan. Namun Trump tetap menakut-nakuti para pejabat partai Republik bahwa bakal terjadi “kerusuhan” andai mereka menampik menominasikannya sebagai capres pada acara konvensi GOP.

“Kita melihat tidak sedikit kekerasan di dekat penampilan Trump, yang menciptakan pendukungnya berpikir: ‘Wah, dia memperbolehkan saya mengerjakan hal itu,’ bahkan tanpa perintah langsung,” menurut keterangan dari Kim Lane Scheppele, dosen Princeton dan pakar rezim otoriter. “Ini menciptakan kebiasaan permisif.”

Trump dua kali menciptakan gurauan yang menyiratkan himbauan guna membunuh Hillary. Pada bulan Agustus, ia menggagas bahwa “para penyokong Amandemen Kedua” dapat menangkal Hillary dari menunjuk Hakim Agung yang baru. Secara luas, ucapannya itu dirasakan mengacu pada tindak kekerasan, walau tim kampanyenya membantah. Pada bulan September, ia menuliskan bahwa semua pengawal individu Clinton mesti mencungkil senjata mereka dan “mari anda lihat apa yang bakal terjadi padanya.”

6. Menular
Dalam minggu-minggu terakhir kampanyenya, Trump telah mencerminkan dirinya sebagai korban konspirasi global yang bakal mencegahnya menjadi presiden, menyalahkan nyaris semua pihak, tergolong media, pejabat pemilu, bank, pelaksana survei, Demokrat, Republik, dan wanita-wanita yang menuduhnya mengerjakan pelecehan seksual.

Tertular capres unggulannya, salah satu penyokong Trump mengaku pada Boston Globe bahwa ia berencana menciptakan pemilih minoritas “merasa tidak banyak was-was” di tempat pemilihan sebagai tanggapan bakal seruan Trump untuk memantau penipuan di tempat pengambilan suara.

Pendukung beda mencetuskan bisa jadi terjadinya kerusuhan pascapemilu. Tim kampanye Trump menanggapi tulisan tersebut dengan pengakuan bahwa mereka “menolak segala format kekerasan dan tak bakal membiarkannya menjadi unsur dari kampanye kami.”

Namun kenaikan retorika, dan keengganan Trump untuk menyangkal pendukung yang ekstrem, menciptakan kelompok-kelompok HAM cemas bahwa situasi akan meningkat bahaya.

Donald Trump ketika berkampanye di Daytona Beach, Florida (Reuters)
Ketakutan ini terutama sebab Trump sudah menyebar target luas, yang tidak jarang kali berhubungan dengan komponen ras, etnis, atau agama. Ia secara reguler menciptakan klaim-klaim palsu mengenai muslim Amerika merayakan terorisme atau menampik menyerahkan pelaku terorisme, serta memberi peringatan bahwa “komunitas lain” (hampir tidak jarang kali kota-kota dengan populasi minoritas yang besar) telah menculik pemilu. Baru-baru ini Trump menuliskan pada Fox News bahwa “imigran ilegal sudah memilih di semua negeri.”

“Apa yang bakal terjadi pada tanggal 9 November masih belum pasti, tetapi tren intoleransi dan tindak kekerasan yang kian menjadi dan meluas, serta siratan bakal konspirasi jahat adalahhal yang mengkhawatirkan,” menurut keterangan dari Jonathan Greenblat, CEO dari Liga Anti-Pencemaran Nama Baik, dalam suatu wawancara.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *